Showing posts with label Press conference. Show all posts
Showing posts with label Press conference. Show all posts
, ,   |  No comments  |  

Woww.. Peretas Bobol ATM di 27 Negara, Jarah US$45 Juta

NEW YORK/BOSTON — Dalam salah satu perampokan bank terbesar yang pernah ada, sebuah lingkaran kejahatan dunia maya global mencuri US$45 juta dari dua bank Timur Tengah dengan meretas perusahaan pemroses kartu kredit dan menarik uang dari anjungan tunai mandiri (ATM) di 27 negara, termasuk Indonesia.

Departemen Kehakiman AS menuduh delapan pria membentuk sel organisasi berbasis di New York itu, dan mengatakan tujuh orang diantaranya telah ditangkap. Pria kedelapan, diduga pemimpin sel, dilaporkan telah dibunuh di Republik Dominika pada 27 April.

Loretta Lynch, Jaksa Distrik Timur New York, dalam jumpa pers mengenai pembobolan bank masif di 27 negara.

Para pemimpin lingkaran tersebut diyakini ada di Amerika Serikat namun para jaksa penuntut menolak memberikan detail karena penyelidikan masih berjalan. Yang jelas adalah cakupan dan kecepatan kejahatan ini: Dalam salah satu serangan, hanya dalam tempo lebih dari 10 jam, $40 juta dijarah dari ATM di 24 negara dengan melibatkan 36.000 transaksi.

“Bergerak secepat data di Internet, organisasi ini merambah sistem komputer korporasi internasional ke jalanan di New York City,” ujar Jaksa Distrik Timur New York Loretta Lynch.

Para tersangka di New York adalah warga negara AS dari Republik Dominika, tinggal di pinggir kota New York City dan sebagian besar berumur 20an.

Dalam kasus ini ada dua serangan terpisah, satu pada Desember dengan jarahan $5 juta di seluruh dunia dan satu pada Februari dengan $40 juta. Skema ini melibatkan serangan di dua bank, Rakbank di Uni Emirat Arab dan Bank of Muscat di Oman.

ATM yang dijarah ada di Jepang, Rusia, Rumania, Mesir, Kolombia, Inggris, Sri Lanka, Kanada, Indonesia dan negara-negara lain.

Para ahli dunia maya mengatakan mereka yakin operasi seperti ini memerlukan pekerjaan beberapa ratus orang, sedikitnya beberapa diantaranya peretas berkemampuan tinggi untuk menembus sistem finansial yang dilindungi sangat baik.

“Para peretas hanya perlu menemukan satu kerapuhan untuk menyebabkan kerusakan jutaan dolar,” ujar Mark Rasch, mantan jaksa pidana dunia maya di Bethesda, Maryland.

Kelompok itu menyasar bank-bank Timur Tengah agak ketinggalan dalam hal keamanan dan teknologi penyaringan untuk mencegah penipuan semacam ini, namun hal ini terjadi di seluruh dunia.

Beberapa kesalahan ada di garis magentik di belakang kartu. Beberapa negara telah meninggalkan kartu dengan garis magnetic dan menyukai kepingan di dalam kartu yang hampir mustahil dijiplak.

Tidak jelas apakah bank-bank tersebut mendapatkan uangnya kembali. (AP/Reuters)


[Sumber: VOA Indonesia]
, , ,   |  No comments  |  

Bos Google: Hacker Paling Canggih ada di Cina

Bos Google: Hacker Paling Canggih ada di Cina
California - Pimpinan Eksekutif Google, Eric Schmidt, menyebut peretas Cina sebagai yang paling canggih dan produktif menyasar perusahaan asing. Pernyataan itu dikutip dari bocoran naskah untuk buku terbarunya, The New Digital Age, yang akan diterbitkan April mendatang.

"Perbedaan antara perusahaan Amerika dan Cina dan taktik mereka akan meletakkan baik pemerintah maupun perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat pada kerugian yang berbeda," tulis Schmidt, seperti dikutip Wall Street Journal. Ia berpendapat bahwa kejahatan cyber yang didukung negara untuk keuntungan ekonomi dan politik itu menjadi ancaman global.

Schmidt menulis buku itu bersama Jared Cohen, seorang mantan penasehat pemerintah AS. Buku terbaru itu akan diterbitkan oleh Random House.

Amerika Serikat, katanya, tidak akan mengambil jalan yang sama dalam spionase korporasi digital, karena hukum di negeri itu jauh lebih ketat. "Ini bertentangan dengan aturan tentang fair play," katanya. Hal sebaliknya terjadi di Cina.

Namun, dalam buku ini mereka mengakui bahwa AS juga untuk beberapa kasus melakukan hal yang sama seperti Cina. Keduanya menyoroti peran negara dalam penyebaran virus Stuxnet, yang sengaja dilakukan  pada tahun 2010. Virus ini awalnya dibuat oleh pemerintah AS dan Israel untuk menyerang fasilitas nuklir Iran.

Ref : Tempo.co 02-Feb-2013
Advertisement